Rabu, 05 September 2018


Nias merupakan kepulauan yang berada di barat pulau sumatra. Pulau ini dihuni oleh suku nias yang konon merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih memiliki budaya megalitik. Salah satu rutinitas budaya megalitik yang masih ada hingga sekarang adalah adat lompat batu atau biasa disebut dengan Fahombo yang sering dipertontonkan kepada wisatawan di tengah rumah tradisional.
Sembari menonton atraksi budaya, akan lebih nikmat jika sekalian mencicipi makanan khas Nias. Nias sendiri memiliki beragam kulner tradisional yang menggugah nafsu makan dengan bumbu khas yang patut dicicipi.
Kami merekomendasikan 7 kuliner tradisional yang wajib dicicipi saat ke Nias. Berikut ini kulinernya:
1. Harinake
makanan khas nias
kilas hidangan bernama Harinake ini memang bikin ngiler. Yap, rasanya memang terkenal enak. Tapi, kuliner ini terbuat dari daging babi cincang yang diiris dengan ukuran kecil-kecil dan tipis-tips.
Bagi wisatawan yang tidak makan daging babi bisa puasa terlebih dahulu. Bagi wisatawan yang makan daging babi wajib sekali mencicipi kuliner yang satu ini.
Harinake sendiri merupakan makanan khas Nias yang biasanya disajikan untuk menghormati tamu dan mertua. Biasanya disajikan satu ekor babi lalu dicincang. Mau coba?
2. Gowi Nifufu
makanan khas nias
Di masa lampau masyarakat Nias beranggapan bahwa makan pagi, siang dan malam tidak lengkap jika belum makan ubi sebelum menyantap hidangan utama. Ubi atau Gowi Nifufu sendiri menjadi hidangan pertama yang dimakan karena pada zaman dulu beras sangat langka dan mahal.
Sesekali wisatawan bisa mencoba teknik menikmati Gowi Nifufu sebelum makan nasi. Pasti rasanya unik.
3. Ni’owuru
masakan khas nias
Proses mengasinkan daging dan ikan memang terbukti bisa membuat daging dan ikan bisa tahan lama. Kalau di daerah lain di Indonesia hanya ikan saja yang diasinkan, tapi di Nias berbagai daging biasa diasinkan agar awet.
Ni’owuru sendiri merupakan istilah untuk asinan daging babi. Tapi banyak juga daging lain yang diasinkan seperti ayam, sapi, atau kerbau. Jadi, jika wisatawan ingin mencicipi kuliner yang satu ini lebih baik bertanya terlebih dahulu dengan penjual tentang jenis daging yang diasinkan.
4. Lehedalo Nifange
makanan khas nias
Lehendalo Nifange adalah  kuliner yang cukup terkenal di Nias. Kuliner ini terbuat dari talas yang direndang. Kuliner satu ini sering menjadi lauk para warga Nias dan biasanya dinikmati dengan sagu.
Rasanya cukup bikin ngiler meskipun bahannya terbuat dari talas. 
5. Köfö- Köfö
makanan khas nias
Köfö- Köfö merupakan kuliner di pulau terpencil di Nias. Bahannya terbuat dari ikan yang telah dibuang kulitnya dan dimasak dengan santan kelapa setelah digoreng. Kuliner satu ini biasanya digunakan untuk lauk makan.
Sebenarnya tiap masyarakat Nias punya cara masak tersendiri. Sebelum ikan digoreng ada juga masyarakat Nias yang menumbuk ikan hingga halus dan mencampurnya dengan telur lalu di stream.
Hidangan ini cocok untuk jadi hidangan makan siang karena memiliki cita rasa mirip dengan gulai ikan yang sering jadi hidangan saat makan siang.
6. Hambae Nititi
makanan khas nias
Hambae Nititi merupakan kuliner yang terbuat dari daging kepiting yang dicampur dengan santan kelapa. Kuliner yang satu ini biasanya dimasak hingga kering mirip abon. Rasanya sangat guris.
Hidangan ini biasanya ada pada bulan Mei, Juni, dan Juli di Hanako Kecamatan Siromba. Jadi wisatawan harus memperkirakan kedatangan.
7. Silio Guro
makanan khas nias
Bisa dibilang Silio Guro adalah hidangan yang mirip dengan pepes bakar karena Silio Guro biasanya disajikan dengan dibungkus daun pisan dan di panggang di atas bara api yang membara. Isiannyayang sendiri daging giling dan kelapa yang telah dibumbui. Yang membedakan kuliner ini dengan pepes adalah isi Silio Guro adalah berupa daging udang.
Selamat mencicipi.






SEBELUM  mengetahui bagaimana kopi diproses, ada baiknya jika kita tahu dulu berbagai struktur dan lapisan dari buah/ceri kopi. Pada dasarnya, struktur buah kopi (coffee cherry) terdiri dari pericarp (kulit daging terluar) dan biji kopi. Pericarp sendiri terdiri lagi dari beberapa lapisan seperti kulit, daging kulit, layer getah (yang biasanya terdiri dari gula alami dan semacam kandungan alkohol) dan perkamen.  Lapisan pericarp adalah yang paling sering dibersihkan, namun lapisan ini juga berpengaruh dalam menambah rasa pada kopi.
Setelah dipanen, buah-buah kopi yang dipetik kemudian dibawa ke tempat pengolahan/penggilingan untuk memisahkan biji dengan kulit dagingnya. Biji inilah yang kemudian akan dikeringkan agar tetap aman disimpan sebelum dijual ke pasar. Idealnya, kopi memiliki tingkat kelembaban alami sekitar 60%, namun ia dikeringkan sampai kelembabannya hanya berkisar sekitar 11-12 % saja. Tujuannya supaya biji kopi itu tidak terlalu lembab lalu membusuk ketika “menunggu” dijual.
Setelah dipetik, ceri kopi akan segera diolah. Proses pengolahannya pun bermacam-macam. Beberapa diantaranya adalah seperti berikut. 
NATURAL PROCESS
Natural process di Buziraguhindwa.
Proses natural ini juga dikenal dengan dry process. Proses ini termasuk teknik paling tua yang ada dalam sejarah proses pengolahan kopi. Setelah dipanen, ceri kopi akan ditebarkan di atas permukaan alas-alas plastik dan dijemur di bawah sinar matahari. Beberapa produsen kopi kadang menjemurnya di teras bata atau di meja-meja pengering khusus yang memiliki airflow (pengalir udara) di bagian bawah. Ketika dijemur di bawah matahari, biji-biji kopi ini harus dibolak-balik secara berkala agar biji kopi mengering secara merata, dan untuk menghindari jamur/pembusukan.
Pada proses natural, buah kopi yang dikeringkan masih dalam berbentuk buah/ceri, lengkap dengan semua lapisan-lapisannya. Prosesnya yang natural dan alami ini akan membuat ceri terfermentasi secara natural pula karena kulit luar ceri akan terkelupas dengan sendirinya.

WASHED PROCESS
Buah kopi diseleksi pada washed process.
Atau yang juga dikenal dengan sebutan wet process. Umumnya, proses ini bertujuan untuk menghilangkan semua kulit-kulit daging yang melekat pada biji kopi sebelum dikeringkan. Setelah dipanen, ceri-ceri kopi biasanya ‘diseleksi’ terlebih dahulu dengan merendamnya di dalam air. Ceri yang mengapung akan dibuang, sementara yang tenggelam akan tetap dibiarkan untuk proses lanjutan karena ceri-ceri demikian dianggap telah matang.
Selanjutnya kulit luar dan kulit daging ceri kopi akan dibuang dengan menggunakan mesin khusus yang disebut depulper (pengupas)Biji kopi yang sudah terlepas dari kulitnya ini kemudian dibersihkan lagi dengan memasukkannya ke dalam bejana khusus berisi air agar sisa-sisa kulit yang masih melekat bisa luruh sepenuhnya akibat proses fermentasi.
Durasi, atau lamanya kopi difermentasi ini berbeda-beda pada setiap produsen. Namun umumnya berkisar antara 24-36 jam tergantung temperatur, ketebalan layer getah pada ceri kopi, dan konsentrat enzimnya. Jika suhu di sekitarnya semakin hangat, maka prosesnya akan semakin cepat pula.

HYBRID PROCESS
▪ Pulped natural process

Proses ini sering digunakan di Brazil. Setelah dipanen, buah kopi dikupas dengan mesin mekanik untuk membuang kulit dan sebagian besar daging buahnya. Dari sini, biji kopi kemudian dijemur di meja-meja pengering. Sisa-sisa daging buah yang masih lengket biasanya akan luruh pada proses ini. (Konon sisa-sisa daging buah yang turut dijemur itu memberi tambahan sweetness dan body pada kopi).

▪ Honey (Miel) process
Kopi yang diolah dengan honey process. Foto oleh counterculturecoffee.
Proses ini agak mirip dengan pulped natural dan umumnya digunakan di banyak negara-negara Amerika Tengah seperti Costa Rica dan El Salvador. Belakangan proses ini juga semakin populer di Indonesia. Pada honey process, ceri kopi akan dikupas dengan mesin mekanis, tapi metode ini menggunakan lebih sedikit air jika dibandingkan pulped natural process. Mesin depulper akan dikendalikan untuk menentukan seberapa banyak daging buah yang mau tetap ditinggalkan melekat dengan biji sebelum dijemur. Kulit daging yang tersisa ini dalam Bahasa Spanyol diistilahkan dengan miel yang berarti madu (honey). Sederhananya, pada honey process ada sedikit lendir—ataumucilage dalam istilah Bahasa Inggrisyang tampak lengket pada biji kopi. Dari sinilah proses ini kemudian dinamakan honey process. Jadi bukan karena menggunakan madu, ya.

▪ Semi-washed

Proses ini sangat umum ditemui di Indonesia dan sering kita kenal dengan istilah ‘giling basah’. Proses semi washed melibatkan dua kali proses pengeringan. Setelah dipetik, kulit terluar ceri kopi dikupas dengan menggunakan depulper dan dikeringkan sebentar. Jika umumnya kelembaban kopi disisakan hingga 11-12 % ketika proses pengeringan, maka pada proses semi-washed, kelembaban kopi disisakan hingga 30-35 % sebelum dikupas lagi hingga bentuknya benar-benar biji/green bean. Nah, green bean inilah yang kemudian dikeringkan lagi sampai ia benar-benar cukup kering untuk disimpan.
Demikianlah berbagai proses pengolahan kopi yang umum digunakan dan dikenal dalam industri kopi. Jika ditanya “mana proses yang lebih baik?” tentu tidak bisa dijawab karena masing-masing proses tentunya memberikan keunggulan, karakter dan profil rasa tersendiri.
Selamat minum kopi!

Jumat, 10 Agustus 2018

resensi novel DILAN 1990

RESENSI
1 Sinopsis
  Sang panglima tempur yang menyukai seorang wanita yang bernama Milea.
Dilan, itulah nama sang panglima tempur itu kisah Milea dan dilan dimulai saat Milea pindah sekolah ke bandung.
  Dilan begitu sangat menyukai Milea begitu juga dengan Milea setelah lama berkenalan dengan Dilan, hari hari  meraka begitu indah hingga suatu kejadian yang membuat menjauhi Milea.
  Inilah kisah Milea dan Dilan yang membuat kitamemahami arti sebuah cinta yang sesungguhnya.
2 IdentitasNovel
·         Judul  Novel    : Dilan1990
·         TahunTerbit    : April 2014
·         Penerbit           : Pastel Books
·         Penulis              : PidiBaiq
3 AnalisisUnsurIntrinsik
·         Penokohan :-Milea : Cantik,  baikhati,  pintar,  sopan
                       -Dilan : Humoris,  setiakawan,  perhatian
                       -Beni     : Pemarah,  manja
                       -Lusy     : Baikhati,  perhatian
                       -Bahar   : Setiakawan,  pemarah     
                       -Bunda  : Penyayang, baikhati                                                                                                                                       
                       -ibu        : Penyayang,  baikhati
·         Tema  : Percintaan
·         Latar   : Disekolah,  rumahmilea, rumahdilan, jalan,
Warungbukeem,
·         Alur    : Majumundur
·         Sudut Pandang   : Orang  pertama
·         Amanat  : Mengingatkan percintaan yang sederhana
·         Gaya Bahasa: baku dan bahasa sehari-hari
4 AnalisisUnsurEkstrinsik
·         Nilai  Moral   : Walaupundilanadalahanak  yang  seringberkelahitetapidilanmenghormati  orang  tuanya
·         Nilai Sosial    : Kesetiakawanan
·         Nilai  Agama : Dilan adalah anak yang rajin beribadah
5.Kekurangan Novel
·         Kata katanya tidak konsisten
·         Ceritanya tidak habis (bersambung)
6.Kelebihan Novel
·         Kata katanya mudah dimengerti
·         Membuat pembaca terbawa suasana
·         Tulisannya jelas
7.Kesimpulan
Novel Dilan 1990 cocok dibaca untuk pembaca usia 17 tahun keastas dan layak dijual kepada masyarakat.


RYO ARDI
XII-IPS 2